Pada blog ini saya menyediakan kategori yang free dan ada juga mengeluarkan sedikit biaya....skripsi, tesis, dan juga TA yang lengkap dengan isinya. Bagi anda yang mau sedikit ngeluarin doku buat skripsi, TA, Tesis.
Email:
fladjah@gmail.com
YM: fladjah
Untuk bahan-bahan yang belum tersedia disini bisa email or telp/sms dengan mengirimkan Judul atau mungkin bahan yang berkaitan
Tampilkan postingan dengan label Tesis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tesis. Tampilkan semua postingan

Kumpulan Abstraksi Tesis

Senin, 07 Desember 2009

PENGATURAN HUKUM KREDITOR PREFEREN DALAM UNDANG- UNDANG KEPAILITAN

Penelitian mengenai Pengaturan Hukum Kreditor Preferen Dalam Undangundang Kepailitan di Kota Makassar merupakan penelitian yuridis empiris yang bertujuan untuk mengetahui perlindungan terhadap kedudukan kreditor preferen menurut Undang- undang No. 4 Tahun 1998 dan Undang- undang Nomor 37 Tahun 2004 dan untuk mengetahui hak- hak debitor dan perlindungan debitor yang harta pailitnya telah dilelang sebelum adanya putusan pengadilan yang berkekuatan tetap.
Data yang dicari dalam penelitian ini adalah data primer yaitu data yang diperoleh dari penelitian lapangan melalui wawancara serta data sekunder yaitu data yang diperoleh dari penelitian kepustakaan. Kemudian data- data tersebut dianalisis dengan metode kualitatif yaitu dianalisis secara keseluruhan sehingga akan diperoleh jawaban atas rumusan permasalahan dalam penelitian ini. Setelah dilakukan analisis terhadap data- data penelitian, dapat diketahui bahwa pengaturan hukum kreditor preferen dalam Undang- undang Kepailitan belumlah tepat dan menjamin secara maksimal akibat terjadinya kesimpangsiuran pengaturan antara hukum jaminan kebendaan (Hak Tanggungan dan Fidusia ) dan Undang- undang Kepailitan. Terjadinya pencocokan utang dan masa penangguhan untuk melakukan eksekusi terhadap barang jaminan terhadap debitor yang wanprestasi melangkahi aturan yang telah ditetapkan oleh hukum jaminan khususnya Hak Tanggungan dan Fidusia. Perlindungan hukum terhadap debitor ailit yang harta bendanya telah dilakukan pengalihan padahal belum memperoleh ketentuan hukum yang tetap juga belum sepenuhnya berpihak kepada debitor pailit. Pengalihan harta budel pailit oleh kurator tetap dilakukan dengan putusan Pengadilan Niaga dan tanpa kriteria terhadap jenis harta tertentu.
Kata Kunci : Perlindungan Hukum, Kreditor Preferen, Debitor Pailit.



THESIS TITLE: THE ASSOCIATION OF DIABETIC NEPHROPATHY SEVERITY AND THE OCCURANCE OF CHIEROATHROPATHY IN TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS, IN DR. SARDJITO HOSPITAL
ABSTRACT
Background: Diabetic nephropathy is a chronic complication of Diabetes Mellitus due to microangiopathy changes in the kidney itself which alters the kidney function. The diagnosis of this pathology is done through the testing of urine albumin levels. The cheiroathropathy is also a complication of diabetes which affects the hand and finger movement. This complication causes severe disability when patients lose the hand function; for example in writing, buttoning clothes etc.
Objective: To identify the occurrence chieroathropathy in association with diabetic nephropathy in type II diabetic mellitus patients in Dr. Sardjito Hospital, Yogyakarta, Indonesia.
Research Design and Method: This research was conducted using a cross sectional design. In this study the disease and exposure status were measured simultaneously in a given population or group of patients with the same symptoms. The data was retrieved from medical records and direct interview and questionnaires from patients in the Sardjito policlinic.
Result: This study reveals that there are no association between diabetic nephropathy severities and chieroathropathy in 100 Type II Diabetes Mellitus patients in Dr. Sarjito, Polyclinic.
Keywords: Diabetes Nephropathy, Diabetes Mellitus II, cheiroathropathy

PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMPUTER DI UPU PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
ABSTRAK
Perpustakaan merupakan jantungnya universitas, merupakan organ yang sangat vital. Kualitas perpustakaan akan mempengaruhi kualitas anak didik dan hasil penelitian lembaga induknya. UPU Perpustakaan UGM sebagai salah satu unit layanan informasi diharapkan mampu menyediakan informasi maupun sarana yang diperlukan untuk temu kembali informasi. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan menimbulkan dampak pada tempat dan proses temu kembali informasi. Tersedianya layanan teknologi komputer diharapkan mampu memenuhi kebutuhan pemakai akan informasi.
Metode penelitian yang mengunakan adalah penelitian campuran deskriptif kualitatif dan penelitian survey. Populasinya adalah seluruh pemakai UPU Perpustakaan UGM, meliputi mahasiswa UGM (S0,S1,S2, dan S3), dosen, peneliti, karyawan UGM dan pemakai dari luar UGM. Metode yang digunakan cara observasi, wawancara, dan penyebaran kuesioner sejumlah populasi 200 responden. Analisanya dengan menginterpretasikan hasil wawancara, dan hasil kuesioner survei. Analisis data berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data, atau melalui 3 tahapan model alir dari Miles dan Huberman (1992 : 20 ) dikutip (Bungin 2003: 229) yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan verifikasi.
Hasil temuan dari penelitian pemanfaatan teknologi komputer di UPU Perpustakaan UGM memberikan dampak positif, artinya pemakai termotivasi untuk datang ke perpustakaan. Harapan pemakai sarana unit komputer perlu ditambah jaringannya dan kelengkapannya (kursi, ruang ber AC, jam layanan lebih lama). Hasil penelitian menunjukkan 94% pemakai datang ke perpustakaan untuk mencari bahan-bahan referensi yang digunakan oleh dosen-dosen mereka, termasuk bahan referensi untuk mendukung penulisan paper (tugas akhir), bahan bacaan perkuliahan, skripsi, penelitian dan hasil praktikum. Keberadaan dan penerapan teknologi komputer di perpustakaan untuk mengganti kartu katalog mampu mengurangi antrian. Pemakai tidak merasa canggung, untuk memanfaatkannya secara optimal. Pemakai selalu mengikuti trend teknologi komputer, dan memiliki minat baca yang tinggi. Koleksi yang ada di UPU Perpustakaan UGM ternyata 75% telah memenuhi kebutuhan pemakai, demikian juga jumlah komputer cukup memadai, namun perlu ditambah jumlahnya. Akses layanan internet dalam penelitian ini termasuk cepat dan lebih baik dibandingkan dengan yang ada di perpustakaan fakultas. Pemakai ketika menggunakan program SIPUS tidak mengalami kesulitan, karena programnya mudah dipahami. Sikap petugas ketika memberikan layanan ke pemakai telah memenuhi kebutuhan pemakai. Sistem layanan sirkulasi menggunakan satu sistem kartu pinjam sehingga memudahkan pemakai dan petugas.


PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROSES LEGISLASI DAERAH
Studi tentang Proses Legislasi Daerah di Bidang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sulawesi Selatan
I N T I S A R I
Tesis ini bertemakan urgensi partisipasi masyarakat dalam proses legislasi daerah khususnya dalam penyusunan Perda menyangkut Pendapatan Asli Daerah (PAD). Penulisannya dilatarbelakangi oleh maraknya Perda-perda tentang PAD yang bermasalah selama otonomi daerah dan seringnya terjadi penolakan oleh masyarakat ketika Perda tersebut diimplementasikan.
Difokuskannya penulisan pada bidang PAD didasarkan atas pertimbangan bahwa mewujudkan partisipasi masyarakat di bidang ini bukanlah hal yang mudah. Alasannya : (1) pelibatan masyarakat berpotensi menghambat bahkan menggagalkan rencana Perda. Pemikiran ini didasarkan pada fakta bahwa tidak ada masyarakat yang suka membayar pajak/retribusi. Di lain pihak, (2) hak untuk menentukan jenis-jenis
pungutan PAD adalah kewenangan pemerintah daerah yang diatur dengan undangundang sehingga posisi pemeritah daerah lebih kuat. Sementara itu (3) meskipun hak masyarakat untuk memberikan masukan dalam rangka persiapan dan pembahasan Rancangan Perda telah diatur dengan undang-undang, namun ketentuan tersebut tidak diimbangi dengan aturan yang mewajibkan penyelenggara pemerintahan daerah untuk melibatkan masyarakat dalam proses legislasi daerah. Dengan demikian, mewujudkan partisipasi masyarakat dalam proses legislasi daerah di bidang PAD memerlukan usaha yang lebih keras.

Sehubungan dengan hal tersebut, penulis melakukan analisa terhadap prospek Perda-Perda PAD yang partisipatif dalam lingkup Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dengan meneliti kesiapan aktor-aktor kebijakan (DPRD, pemerintah daerah dan masyarakat) serta mekanisme yang mengaturnya. Penelitian ini bersifat diskriptif kualitatif dengan menggunakan teknik angket, wawancara, pengamatan langsung, dan dokumenter untuk menganalisa kondisi sekarang ini dan membandingkannya dengan
kondisi ideal yang harus dipenuhi untuk menghasilkan perda partisipatif, lalu menginterpretasikannya untuk menemukan jawaban atas permasalahan. Hasil analisa menunjukkan bahwa sekalipun pemerintah daerah dan DPRD menyatakan dukungannya terhadap partisipasi masyarakat dalam proses legislasi,
namun pernyataan itu tidak diikuti dengan komitmen untuk mewujudkannya. Hal tersebut terbukti dengan tidak adanya regulasi, sistem dan mekanisme, serta sarana berpartisipasi yang dibuat, atau direncanakan akan dibuat, khusus untuk itu. Sementara masyarakat dan pers menunjukkan antusiasme dan mengeluhkan sikap introvert pemerintah daerah dan DPRD sehingga menyulitkan mereka mendapat informasi agar dapat berpartisipasi.

Untuk mewujudkan Perda PAD yang partisipatif, ada banyak hal yang perlu dibenahi oleh pemerintah daerah dan DPRD. Diantaranya adalah (1) reorientasi dalam pembuatan kebijakan publik. Bila sebelumnya orientasinya adalah pada kepentingan pemerintah sendiri, maka sekarang kebijakan publik harus benar-benar public oriented; (2) menyatukan komitmen dan persepsi antar-unit kerja Pemda, (3) membuat landasan yuridis yang mengikat pemerintah daerah dan DPRD untuk melibatkan masyarakat
dalam proses legislasi daerah, lengkap dengan sanksi dan mekanismenya; dan (4) menyiapkan sarana informasi dan komunikasi rancangan perda sebanyak mungkin. Sarana itu harus mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, juga murah bahkan gratis.
Kata-kata kunci : legislasi daerah, partisipasi masyarakat, Perda, PAD.

ANALISIS PEMEKARAN WILAYAH KABUPATEN FAKFAK
PROPINSI PAPUA
INTISARI
Proses pembangunan nasional maupun daerah dari periode ke periode telah menunjukkan hasil yang menggembirakan, namun tidak dapat dipungkiri, bahwa dalam keberhasilan tersebut masih tersisah persoalan-persoalan yang harus ditangani secara lebih serius, seperti masalah kemiskinan, rendahnya kualitas sumber daya manusia, mainimnya akses terhadap teknologi dan informasi dan lain sebagainya, yang akibatnya masih terlihat adanya kesenjangan di berbagai sektor, baik antar wilayah maupun antar masyarakat. Untuk Propinsi Papua pada umumnya dan khususnya Kabupaten Fakfak hal ini disebabkan, karena luas wilayah dan isolasi wilayah yang mengakibatkan sentuhan pembangunan belum dapat terlihat sebagaimana yang diharapkan. Dengan demikian perlu adanya perhatian dan jalan keluar terhadap persoalan-persoalan pembangunan tersebut. Hal ini perlu dilakukan agar masalah-masalah pembangunan tersebut tidak menjadi hambatan dalam proses penyelenggaraan pemerintahan di era otonomi daerah. Salah satu alternatif untuk menjawab persoalan-persoalan pembangunan tersebut adalah melalui pemekaran wilayah. Dengan demikian masalah pemekaran wilayah Kabupaten Fakfak merupakan masalah yang sangat tertarik untuk dibicarakan.
Untuk menjawab tujuan penelitian tersebut, teori-teori yang digunakan adalah teori tentang pengembangan wilayah, teori desentralisasi, dan teori pemekaran wilayah. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif, dengan pendekatan kuantitatif, tekhnik pengumpulan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam, sedang analisis datanya melalui interpretasi berdasarkan pemahaman intelektual yang dibangun berdasarkan pengalaman empiris penulis.
Kesimpulan hasil penelitian adalah sebagai berikut: Pertama, munculnya kebijakan pemekaran wilayah Kabupaten Fakfak, dilatarbelakangi oleh luas wilayah dan isolasi wilayah, serta terbatasnya sarana dan praasrana publik dalam menjalankan fungsi pelayanan publik, sehingga terlihat masih ada ketimpangan di berbagai sektor khususnya pada daerah (distrik) yang jauh dari pusat pemerintahan. Kedua, ketimpangan antar kecamatan tersebut membuat adanya perhatian dari para stakeholders, sehingga adanya tekanan terhadap pengambil kebijakan, agar ketimpangan tersebut dapat dikurangi/dapat diatasi lewat pemekaran wilayah. Ketiga, Adanya intervensi baik dari pemerointah propinsi maupun pemerintah (pusat) terhadap pengambilan keputusan terhadap pemekaran wilayah ini merupakann keputusan politik dan keputusan akhir yang merupakan kewenangan pemerintah, yang telah dipertimbangkan, sehingga pemekaran wilayah tersebut dapat dilaksanakan. Keempat, secara yuridis maupun administratif pemekaran Kabupaten Fakfak/pembentukan Kabupaten Kaimana dapat dikatakan layak, karena dari hasil penelitian/studi berdasarkan kriteria dan syarat sebagaimana diatur dalam PP. 126/2000, dapat dikatakan lulus, sehingga terbentuknya Kabupaten Kaimana bersamaan dengan 13 kabupaten lainnya di Propinsi Papua yang dikukuhkan lewat UU. No. 26/2002.
Kata Kunci : Isu disparitas antar kecamatan – Tekanan Stakeholders – Desaentralisasi Kewenangan – Pemekaran Wilayah.

HUBUNGAN PUSAT – DAERAH DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGUKUHAN HUTAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG PROPINSI SULAWESI SELATAN
INTISARI
Kewenangan pengukuhan hutan secara normatif telah diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota, namun dalam prakteknya masih terjadi inkonsistensi. Hal ini menyebabkan timbulnya kerancuan dalam mendefenisikan wewenang bagi Pemerintah Pusat dan Daerah dalam kegiatan teknisnya. Oleh karena itu, studi ini ingin mengkaji hubungan pusat dan daerah dalam implementasi kebijakan pengukuhan hutan.
Untuk menganalisis hubungan tersebut digunakan model implementasi kebijakan Grindle yang didasarkan pada analisis isi dan konteks kebijakan pengukuhan hutan. Analisis terhadap isi kebijakan dilakukan dengan menggunakan enam indikator, yaitu : kepentingan yang dipengaruhi oleh kebijakan pengukuhan hutan, tipe manfaat yang diperoleh dari kebijakan tersebut, Derajat perubahan yang diharapkan, letak pengambilan keputusan, pelaksana program dan sumberdaya yang dikerahkan. Sementara analisis konteks kebijakan didasarkan pada tiga indikator, yaitu : kekuasaan dan strategi aktor yang terlibat, karakteristik institusi dan rejim serta kepatuhan dan daya tanggap. Untuk sampai pada analisis tersebut, maka pengumpulan data dan informasi dilakukan melalui studi kepustakaan dan wawancara terhadap aktor dari lembaga yang terlibat dalam kegiatan pengukuhan hutan pada masing-masing level pemerintahan.
Berdasarkan hasil penelitian dengan melakukan analisis isi kebijakan, maka secara umum terjadi inkonsistensi kebijakan pusat dalam wewenang pengukuhan hutan. Inkonsistensi tersebut memberikan peluang bagi masing-masing pihak untuk memainkan kepentingannya. Terjadi perbedaan kriteria tipe manfaat yang diperoleh oleh masing-masing pihak, perbedaan derajat perubahan yang diharapkan, kerancuan letak pengambilan keputusan, ketidakjelasan pelaksana kegiatan serta dominasi Pemerintah Pusat dalam pengerahan sumberdaya.
Sementara itu, masing-masing level pemerintahan mempunyai posisi dan strategi sendiri dalam merespon redefenisi perannya di era otonomi daerah. Kewenangan yang telah didesentralisasikan kemudian menjadi kabur ketika kegiatan teknis pengukuhan hutan masih dikendalikan oleh Pemerintah Pusat. Kondisi ini mewarnai analisis konteks kebijakan pengukuhan hutan.
Dengan demikian, maka desentralisasi dalam kebijakan pengukuhan hutan tidak dapat diimplementasikan sebagaimana mestinya. Hal ini disebabkan masih terdapat muatan kepentingan masing-masing level pemerintahan yang tidak konsisten dengan isi kebijakan desentralisasi pengukuhan hutan. Inkonsistensi kebijakan tersebut dilingkupi oleh redefenisi posisi dan strategi masing-masing level pemerintahan.
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka diharapkan agar kegiatan pengukuhan hutan kedepan dilaksanakan dengan berpegang pada konsistensi bidang kewenangan masing-masing level pemerintahan. Dengan demikian diharapkan terwujud kesamaan bahasa dalam mengimplementasikan kebijakan pengukuhan hutan. Konsistensi juga diharapkan terwujud dalam kebijakan sektoral yang dibangun diatas niat tulus berbagai pihak dalam melaksanakan kegiatannya.
Kata Kunci : Hubungan, implementasi, kebijakan, pengukuhan hutan

KUALITAS PELAYANAN UMUM PADA KANTOR KECAMATAN
DI KOTA PALANGKA RAYA
INTISARI
Saat ini masyarakat menuntut adanya perbaikan kualitas pelayanan publik dari pemerintah terhadap berbagai jenis pelayanan publik yang dilaksanakan oleh pemerintah. Hal ini karena masyarakat semakin memahami akan hak-haknya, sehingga tuntutan dalam peningkatan kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan oleh pemerintah semakin besar. Selain itu masyarakat ingin lebih mudah dan dekat dalam mendapatkan pelayanan publik. Untuk merespon tuntutan ini, maka itu peran Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sangatlah penting. Karena itu untuk menjawab tuntutan masyarakat untuk memperoleh pelayanan publik yang lebih dekat, baik, cepat, efisien, dan berkualitas Pemerintah Kota Palangka Raya berusaha mendekatkan pelayanan publik kepada masyarakat dengan melakukan pemekaran Kecamatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Kecamatan Jekan Raya sebagai Kecamatan baru hasil pemekaran. Serta mencermati apakah Resvonsivitas/daya tanggap pegawai, Diskresi pegawai, dan Partisipasi masyarakat mempunyai pengaruh terhadap kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Kecamatan Jekan Raya. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalah observasi, wawancara dan dokumentasi. Sebagai sumber data adalah pejabat struktural yang terkait dan staf yang menangani pelayanan, sedangkan untuk data pengguna jasa adalah masyarakat yang sedang dan pernah mengurus pelayanan pada kantor Kecamatan Jekan Raya.
Dari hasil analisa dan interpretasi disimpulkan bahwa kualitas pelayanan publik yang diselenggarakan oleh Kecamatan Jekan Raya masih belum baik. Hal ini dapat dilihat dari masih belum adanya kejelasan dan kepastian mengenai lamanya waktu penyelesaian suatu pelayanan dan biaya yang harus dibayar oleh masyarakat, serta masih rendahnya diskresi pegawai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat sehingga menjadi penghambat dalam pelaksanaan pelayanan.
Beberapa saran yang dapat diberikan kepada Kantor Kecamatan Jekan Raya berkaitan dengan pelaksanaan pelayanan publik adalah agar memberikan kejelasan mengenai kepastian waktu dan biaya kepada masyarakat yang mengurus suatu pelayanan, masyarakat perlu lebih dilibatkan dalam pengambilan kebijakan yang berkenaan dengan kepentingan masyarakat, sehingga keputusan yang diambil tidak sepihak. Serta unsur pimpinan hendaknya lebih memberi kewenangan dan kebebasan yang lebih besar bagi para pegawai untuk berkreasi dan berinovasi dalam menyelesaikan pekerjaan, khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
(Studi Kasus Di Kecamatan Jekan Raya)

PENEMPATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA JABATAN STRUKTURAL DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
INTISARI
Dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004, daerah diberi peluang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri antara lain dalam penempatan pegawai pada jabatan struktural, sehingga memperoleh pegawai yang tepat pada tempat yang tepat, dengan kemampuan dan profesional yang dimiliki sesuai dengan jabatan yang diemban, dan dilaksanakan berdasarkan peraturan persyaratan penempatan yang ada. Tapi kenyataan pegawai yang ditempatkan tidak sesuai dengan peraturan persyaratan, nampak dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi dalam jabatan yang diemban, tidak sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu yang menjadi permasalahan didalam penempatan pegawai negeri sipil pada jabatan struktural di Kabupaten Timor Tengah Selatan, yaitu mengapa terjadi perbedaan antara peraturan persyaratan penempatan pegawai negeri sipil pada jabatan struktural dan kenyataan pelaksanaan di lapangan.
Dalam penempatan ada 3 (tiga) faktor yang mempengaruhi yaitu Analisis Jabatan, Kewenangan, dan Budaya. Variabel penempatan dioperasionalkan melalui indikator tingkat penyimpangan disengaja dan tidak disengaja, serta dampak dari penyimpangan. Variabel Analisis Jabatan dioperasionalkan melalui indikator persyaratan jabatan dan kewajiban. Variabel Kewenangan dioperasionalkan melalui indikator Tindakan untuk mengatur dan pendelegasian. Variabel Budaya dioperasionalkan melalui indikator praktek patronage dan partisipasi organisasi. Metode penelitian yang dipakai yaitu metode deskriptif kualitatif, dengan cara menggunakan data sekunder yang tersedia di kantor Badan Kepegawaian Daerah, Badan Diklat, dan Bagian Kepegawaian. Selanjutnya dilakukan wawancara terhadap beberapa nara sumber yang dianggap memiliki pengetahuan tentang data yang diteliti.
Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan, penempatan pegawai negeri sipil pada jabatan struktural di Kabupaten Timor Tengah Selatan, tidak sesuai dengan peraturan persyaratan, karena berbagai kepentingan yang lebih didahulukan atau diprioritaskan untuk keuntungan pribadi atau poltik pejabat tertentu. Dengan demikian, maka untuk memperoleh pegawai yang tepat pada tempat yang tepat, peraturan persyaratan harus benar-benar dipakai terutama standar kompetensi harus dimiliki oleh pegawai yang akan ditempatkan, dan perlu adanya persiapan kader-kader yang akan menduduki jabatan dengan cara memberi pendidikan, pelatihan, dan didukung dengan peraturan persyatan yang diperlukan dalam jabatan tersebut.
Kata Kunci: Penempatan, Jabatan struktural.

PERLAWANAN NAN TAK KUNJUNG PADAM
(Studi tentang Dinamika Aksi Kolektif Suku Jawa dan Suku Gayo terhadap GAM di Tanoh Gayo 1999 – 2008)
INTISARI
Tuntutan Aceh pisah dari NKRI (merdeka) tidak dinafikkan muncul pro kontra dan berdampak terjadinya berbagai tindak kekerasan. Penelitian ini memotret dinamika aksi kolektif perlawanan Suku Jawa dan Suku Gayo (gerakan sosial) terhadap GAM di Tanoh Gayo sejak 1999-2008. Fenomena aksi kolektif mendeskripskan sesuatu yang selama ini tidak dipotret, tetapi itu terjadi dalam periodesasi dan momentum politik.
Metode/jenis penelitian kualitatif, data yang digunakan primer dan sekunder, diperoleh melalui teknik wawancara, studi dokumentasi dan telaah kepustakaan, dengan analisa deskriptif kualitatif dilakukan secara simultan.
Temuan penelitian aksi kolektif perlawanan hadir dan menguat periodesasi (2000-2003) karena pertama, kondusifitas struktural, kesejarahan, struktur demografis, geografis, kekuasaan dan ekonomi; kedua, absennya pemerintah dalam pelayanan keamanan berdampak terjadinya kekerasan; ketiga gagalnya berbagai kebijakan politis, upaya damai/dialog, dan operasi terpadu; keempat mendapat dukungan dan sikap empatik/simpati pemimpin lokal, eksekutif, legislatif, muspida, dan berbagai pihak, kelima interaksi dengan berbagai kekuatan kekuasaan (aparat keamanan). Aksi kolektif hadir dan menguat semata-mata mengatasi permasalahan dan mengisi kevakuman aparatus keamanan.
Periodesasi Darurat (2003-2005 aksi kolektif dikooptasi oleh pemerintah (penguasa darurat) karena negara dalam keadaan kuat. Masuknya berbagai kepentingan secara simultan dan beberapa agenda nasional dan lokal (pemilu 2004, pilkada, darurat itu sendiri) menjadikannya sebagai alat untuk mensukseskan agenda tersebut. Aksi kolektif mengalami krisis, tidak bermakna, mal fungsi ketika negara dominan, kuat, otoriter.
Periodasasi pasca Darurat/MoU (2005-2008) aksi kolektif perlawanan secara fisik vakum dan waspada (situas kondusif) tetapi secara substansi sebagai gerakan sosial menguat dan solid, meski terjadi deklinasi yang memunculkan kekecewaaan. Kesadaran identitas kolektif hadir kembali bahkan menyebakan konflik internal. Aksi kolektif perlawanan akan memberikan respon jika jika mantan GAM berulah dan sampai kini eksis (survive) terlebih menjelang pemilu 2009. Ketika pemerintah keluar dari ranah gerakan sosial, kemandirian, independensi, sukarela, ekspresi, dan kreasi justru mewarnai keseharian aksi kolektif perlawanan di Tanoh Gayo
Aksi kolektif suku Jawa dan Suku Gayo sebagai gerakan sosial adalah fenomena serba hadir dalam konteks negara Indonesia pada umumnya dan Aceh Tanoh Gayo) pada khususnya. Campur tangan, masuknya berbagai kepentingan, dan interaksi dengan berbagai kekuatan adalah sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakan. Namun bila berlebihan, absolut, dan otoriter justru akan merusak, mematikan dan memunculkan pelabelan negatif terhadap sebuah aksi kolektif. Kajian selanjutnya adalah berapa kadar (toleransi) yang dibolehkan. Sebab gerakan sosial adalah sebuah organisme yang lahir suci (tabularasa). Hitam atau putih, bersih atau kotor sangat ditentukan lingkungan internal dan eksternalnya.
Kata kunci : gerakan sosial, aksi kolektif perlawanan

IMPLEMENTASI PROGRAM BOS (BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAH) DALAM RANGKA MEMPERLUAS AKSES LAYANAN
INTISARI
Keberhasilan pemerintah merealisasikan wajib belajar 6 tahun bagi seluruh warganegara Indonesia sejak tahun 1984 telah mendorong upaya pemerintah memperluas jangkauan layanan pendidikan dasar menjadi wajib belajar 9 tahun, khususnya bagi kelompok masyarakat yang secara ekonomi tergolong kurang mampu. Kebijakan tidak populis dengan menaikkan harga BBM justru berdampak pada menurunnya terhambatnya upaya penuntasan program wajardikdas 9 tahun oleh karena penduduk miskin akan semakin sulit memenuhi kebutuhan biaya pendidikan. Salah satu kebijakan yang ambil pemerintah untuk meringankan biaya pendidikan yang ditanggung oleh pemerintah adalah dengan meluncurkan program BOS kepada sekolah setingkat SD/MI dan SMP/MTs di seluruh Indonesia sejak bulan Juli 2005. Dengan dasar argumentasi tersebut, studi ini berusaha menjawab pertanyaan penelitian, yaitu “bagaimana implementasi kebijakan program BOS dalam rangka memperluas layanan akses pendidikan dasar 9 tahun?”
Studi ini dilakukan di Kecamatan Banyumas Kabupaten Banyumas. Metode penelitian yang digunakan dalam studi ini adalah deskriptif-kualitatif. Pengumpulan data dilakukan menggunakan teknik wawancara, observasi, dan studi dokumentasi.
Sedangkan analisis data menggunakan teknik kualitatif dan induktif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi kebijakan program BOS yang dilakukan oleh sekolah-sekolah di Kecamatan Banyumas, khususnya di sekolahsekolah yang menjadi objek penelitian ini telah dijalankan berdasarkan petunjuk pelaksanaan dan teknis yang dikeluarkan pemerintah. Namun, dalam penerapannya ternyata sekolah-sekolah tersebut menghadapi berbagai kendala baik dari segi isi maupun konteks kebijakan program BOS. Dari segi isi, beberapa aturan dalam juklak dan juknis
BOS bagi sekolah-sekolah dirasakan cukup memberatkan, seperti pelaporan BOS yang rumit dan alokasi dana yang terbatas ditambah lagi dengan adanya pemberlakuan pajak 15%. Harapan sekolah dan masyarakat dengan adanya BOS dapat mengurangi berbagai jenis iuran yang selama ini memberatkan orang tua murid justru tidak seutuhnya dapat ditutupi oleh adanya dana BOS. Dari segi konteks, sekolah-sekolah dihadapkan pada problema keterlibatan stakeholder, khususnya komite sekolah dan partisipasi orang tua murid dalam rangka mendukung program BOS sebagai upaya menuntaskan wajardikdas 9 tahun. Keberadaan komite sekolah dalam struktur pelaksana BOS tidak ditentukan secara jelas, sementara dalam UU 20/2003 tentang Sisdikas keberadaan komite sekolah sangat determinan. Dari sisi masyarakat, adanya dana BOS seolah-olah orang tua tidak lagi memberikan perhatian terhadap perkembangan dan pengembangan sekolah misalnya untuk peningkatan sarana dan prasarana sekolah, padahal dana BOS peruntukannya sangat jelas dan dengan dana yang terbatas.
Untuk itu, penelitian ini merekomendasikan perlu adanya perubahan mendasar dan terstruktur terhadap juklak dan juknis program BOS, sehingga ide dasar program BOS untuk meringankan beban sekolah dan orang tua murid dalam rangka peningkatan akses wajardikdas 9 tahun tidak berbuah dilema, baik bagi sekolah itu sendiri, keluarga yang tidak mampu, maupun murid itu sendiri. Selain itu, pemerintah perlu memperkuat transparansi dalam mensosialisasikan kebijakan program BOS kepada seluruh stakeholders agar tidak terjadi mis-understanding dan mis-communication dalam rangka implementasinya.
Kata kunci: implementasi, BOS, isi (contents), lingkungan (context), wajardikdas.

Selengkapnya...

Tesis-tesis Referensi

Minggu, 06 Desember 2009

Disini Mr. Holic memberikan judul-judul Tesis yang mungkin bisa jadi bahan referensi bagi saudara-saudara yang sedang menyusun tesis atau yang sedang bersiap-siap menyusun tesis untuk memperoleh telar s2. Disini saya memberikan beberapa judul sebagai referensi dan juga tesis secara lengkap dengan isinya bisa didapatkan dengan memesan melalui email atau telp


Judul-judul tesis:

  1. PERILAKU ADHESIF TIANG CERUCUK KAYU ULIN PADA TANAH LEMPUNG LUNAK
  2. SISTEM PENETASAN TELUR BERBASIS MIKROKONTROLER AVR ATMEGA 8535
  3. PENEMPATAN PEGAWAI NEGERI SIPIL PADA JABATAN STRUKTURAL DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN
  4. PERILAKU VOTING MASYARAKAT ATONI METO
  5. PENGATURAN HUKUM KREDITOR PREFEREN DALAM UNDANG-UNDANG KEPAILITAN
  6. EVALUASI METODE PERAMALAN (FORECASTING) PERMINTAAN PASAR di PT. BERLICO MULIA FARMA YOGYAKARTA
  7. PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMPUTER DI UPU PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
  8. DISTRIBUSI TEKANAN DAN UNJUK KERJA AEROFOIL ekor pesawat TERBANG tipe V PADA ANGKA REYNOLDS RENDAH
  9. PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROSES LEGISLASI DAERAH
  10. PEMANFAATAN RAWAT INAP PUSKEMAS SIPAYUNG RENGAT DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU
  11. ANALISIS PEMEKARAN WILAYAH KABUPATEN FAKFAK PROPINSI PAPUA
  12. HUBUNGAN PUSAT – DAERAH DALAM IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENGUKUHAN HUTAN PADA DAERAH ALIRAN SUNGAI JENEBERANG PROPINSI SULAWESI SELATAN
  13. IMPLEMENTASI KONSEP OTONOMI DESA DALAM ERA OTONOMI LUAS DI KABUPATEN BUOL PROVINSI SULAWESI TENGAH
  14. KUALITAS PELAYANAN UMUM PADA KANTOR KECAMATAN DI KOTA PALANGKA RAYA
  15. PERILAKU VOTING MASYARAKAT ATONI METO
    ah Analisis Terhadap Perilaku Voting Masyarakat Atoni Meto di
    amatan Mollo Selatan, Mollo Utara dan Fatumnasi Kabupaten
    Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur
    pada Pemilu 1997, 1999 dan 2004)
  16. PENGATURAN HUKUM KREDITOR PREFEREN DALAM UNDANG-UNDANG KEPAILITAN
  17. EVALUASI METODE PERAMALAN (FORECASTING) PERMINTA
    di PT. BERLICO MULIA FARMA YOGYAKARTA
  18. PEMANFAATAN TEKNOLOGI KOMPUTER DI UPU PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS GADJAH MADA

  19. DISTRIBUSI TEKANAN DAN UNJUK KERJA AEROFOIL EKOR PESAWAT TERBANG TIPE V PADA ANGKA REYNOLDS RENDAH
  20. PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROSES LEGISLASI DAERAH Studi tentang Proses Legislasi Daerah di Bidang Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sulawesi Selata

masih banyak lagi judul-judul yang lain beserta isinya, nah bagi calon-calon S2 yang sedang menyusun and berminat silahkan email aja or call/sms
Selengkapnya...

Tesis Magister Manajemen Pendidikan

MANAJEMEN PENGEMBANGAN PROFESIONALISME GURU DI SMP MUHAMMADIYAH NGEMPLAK SLEMAN YOGYAKARTA

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan: (1) kondisi profesionalisme guru, (2) pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan profesionalisme guru, (3) faktor-faktor penghambat dalam pelaksanaan pengembangan sumber daya manusia untuk meningkatkan profesionalisme guru di SMP Muhammadiyah Ngemplak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Jenis data dalam penelitian ini meliputi data kualitatif dan data kuantitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik porpusive sampling, meliputi kepala sekolah, guru, dan siswa. Data dianalisis dengan model analisis interaktif Miles dan Huberman yang dilakukan melalui reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data ditentukan dengan cara triangulasi dan diskusi dengan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) kondisi profesionalisme guru di SMP Muhammadiyah Ngemplak menunjukkan bahwa kualifikasi akademik guru yang qualified sebanyak 16 orang (61,54%), dan guru yang underqualified sebanyak 10 orang (38,46%). (2) Pelaksanaan program pengembangan profesionalisme guru SMP Muhammadiyah Ngemplak diwujudkan dalam bentuk kegiatan yang meliputi: peningkatan keahlian dan keterampilan melalui studi lanjut, pelatihan, MGMP, seminar, workshop. Peningkatan pengetahuan melalui penambahan koleksi buku di perpustakaan. Pembinaan guru melalui supervisi dan penugasan dalam KBM dan kegitan di luar KBM. (3) Faktor-faktor yang menghambat pelaksanaan program pengembangan profesionalisme guru SMP Muhammadiyah Ngemplak antara lain: (a) terbatasnya anggaran dari sekolah, (b) minat dan motivasi dari beberapa guru untuk mengikuti program pengembangan yang masih kurang, (c) sulitnya menentukan waktu program pengembangan yang tepat. Langkah yang ditempuh oleh kepala sekolah dalam mengatasi hambatan tersebut antara lain: (a) mengajukan proposal permohonan bantuan kepada pemerintah untuk mendapatkan bantuan media pembelajaran berupa komputer, (b) memberikan motivasi kepada guru tentang pentingnya program pengembangan dan memberikan reward kepada guru yang berprestasi, (c) melaksanakan program pengembangan pada saat libur semester atau setelah proses kegiatan belajar mengajar selesai, dan (d) melakukan kerjasama dengan instansi terkait yang kompeten seperti Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman dan LPMP Propinsi DIY.





Selengkapnya...

Tesis-tesis Teknik Sipil

PERILAKU PILE CAP BETON DIDUKUNG KELOMPOK TIANG
PADA TANAH LEMPUNG LUNAK DENGAN PEMBEBANAN STATIS
INTISARI
Subgrade pada tanah lempung lunak mempunyai kapasitas dukung yang cukup rendah. Apabila diatasnya dibangun konstruksi rigid pavement maka disaat beban bekerja secara dinamis dan statis (kendaraan bergerak dan berhenti) konstruksi tersebut akan mudah mengalami kerusakan. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengetahui perilaku lendutan pile cap (pelat penutup) beton yang berfungsi sebagai rigid pavement didukung kelompok tiang pada tanah lempung lunak dengan pembebanan statis.
Benda uji pada penelitian ini terdiri dari dimensi pelat 3m x 1m x 0,1m dan dimensi tiang L= 1 m dengan diameter 0,1m yang dipancang pada tanah lempung sebanyak 12 buah. Media lempung ukuran 3,5 m x 1,5 m dengan kedalaman 1,5 m. Pemberian beban pada pile cap dilakukan secara statis mencapai 49 kN dengan memvariasikan letak beban dan tipe pembebanan yakni beban titik dan garis. Hasil pengujian pembebanan ini akan dibandingkan dengan hitungan metode Beam on Elastic Foundation (BoEF) dan metode Elemen Hingga (SAP 2000).
Pengujian menunjukan bahwa pile cap mampu menahan beban 49 kN dengan lendutan 2,01 mm. Letak beban yang divariasikan memberikan lendutan semakin besar dengan berpindah beban dari pusat (sentris) ke pinggir pelat (eksentris). Pemasangan tiangtiang memberikan peningkatan nilai koefisien subgrade arah vertikal (kv) dan cenderung menurun apabila terjadi penambahan beban. Penggunaan kv rata-rata akibat beban titik pada hitungan BoEF dan SAP 2000 memberikan pendekatan terhadap hasil pengamatan dengan selisih kecil dari 50 % sedangkan akibat beban garis di atas 50 %. Untuk kv PLT hitungan SAP 2000 dengan hasil pengamatan diperoleh selisih antara -84 % sampai 2 %, hitungan BoEF dengan memakai kv PLT terkoreksi selisih antara -419 % sampai -745 % dan hitungan BoEF memakai kv PLT justifikasi memberikan selisih antara -178 % sampai -353 %.
Kata kunci : Pile cap, perkuatan kelompok tiang, beban statis sentris dan eksentris, lendutan, BoEF, SAP 2000.

PERILAKU ADHESIF TIANG CERUCUK KAYU ULIN
PADA TANAH LEMPUNG LUNAK

INTISARI
Fondasi tiang merupakan salah satu jenis fondasi dalam yang sudah umum digunakan di Indonesia. Fondasi ini mampu menahan beban yang besar dan dapat menghindari penurunan yang cukup besar dibanding dengan jenis fondasi lain. Kayu dapat dipakai sebagai bahan pilihan untuk fondasi tiang dan untuk perkuatan tanah, khususnya pada lapisan tanah lempung lunak. Oleh karena itu perlu diperoleh gambaran perilaku adhesive antara kayu dan tanah.
Penelitian ini menitik beratkan pada perilaku adhesif fondasi tiang kayu pada tanah lempung lunak, dengan kondisi floating pile. Floating pile dimodelkan dalam kotak uji di laboratorium luar. Pada penelitian ini kayu yang digunakan adalah Eusideroxylon zwageri T.et B (Ulin). Model tiang dengan ukuran 5 x 5 cm2 , panjang tiang 90 cm, dan tiang yang tertanam 70 cm. Tiang dibuat dengan konfigurasi 1, 2, 4, tiang dengan jarak antar pusat tiang 3d, dan variasi waktu dari pemancangan tiang 1, 3, 7 hari. Uji beban dilakukan dengan 2 tahap. Tahap pertama, beban diberikan saat tahanan ujung dan tahanan friksi bekerja (Qu), kemudian beban diberikan saat tahanan ujung saja yang bekerja (Qb). Tahanan friksi didapat dari hasil pengurangan tahanan total terhadap tahanan ujung. Masing-masing variasi dilakukan tiga kali pengujian dan diambil reratanya.
Hasil uji beban kelompok tiang memperlihatkan, jika jumlah tiang dalam kelompoknya bertambah, maka kapasitas dukung total tiang akan meningkat, namun adhesi tiap tiang dalam tanah lempung akan menurun, dan untuk waktu pemeraman yang lebih lama dari saat pemancangan, kapasitas dukung tiang cenderung meningkat dan sampai waktu tertentu kapasitas dukung tiang cenderung akan konstan, karena adhesi sudah mencapai kondisi maksimumnya.

Kata Kunci : Floating pile, lempung lunak, adhesif

PEMANFAATAN BETON STYROFOAM RINGAN UNTUK FONDASI SUMURAN

INTISARI
Akhir-akhir ini harga material bangunan semakin melambung terutama harga semen sebagai bahan pokok suatu konstruksi bangunan (konstruksi fondasi). Di daerah tanah lunak dengan letak muka air tinggi diperlukan ukuran luasan fondasi cukup besar (fondasi telapak, pelat) atau digunakan fondasi tiang. Apabila jenis fondasi tiang, fondasi langsung (telapak) atau fondasi pelat digunakan pada bangunan ringan berakibat mahalnya biaya konstruksi. Untuk itu, dicari alternatif lain yaitu fondasi beton ringan guna mengurangi volume pemanfaatan material semen, dan menekan biaya konstruksi fondasi. Dalam penelitian ini, pemanfaatan beton ringan merupakan salah satu alternatif untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan memanfaatkan styrofoam.
Penelitian ini menitikberatkan pada pengaruh pemanfaatan beton Styrofoam ringan untuk fondasi sumuran pada tanah lempung lunak dengan dua kondisi muka air tanah yaitu di atas dasar fondasi dan di bawah dasar fondasi. Beton Styrofoam ringan dimodelkan dalam kotak uji di laboratorium, bahan yang digunakan berupa semen Portland tipe I, styrofoam dengan diameter 2-3 mm, pasir dan air, di mana komposisi air proporsional dengan campurannya. Perbandingan volume bahan dengan 6 variasi campuran berupa campuran styrofoam 100 % dan pasir 0 %, styrofoam 80 % dan pasir 20 %, styrofoam 60 % dan pasir 40 %, styrofoam 40 % dan pasir 60 %, styrofoam 20 % dan pasir 80 % serta styrofoam 0 % dan pasir 100 %.
Model fondasi dengan ukuran diameter 44 cm dan panjang 50 cm dan tertanam 45 cm. Uji beban dilakukan dengan cara memberi secara bertahap dan dicatat penurunannya. Dari hasil uji beban statis dapat dilihat bahwa dengan memanfaatkan beton styrofoam ringan untuk fondasi sumuran diperoleh nilai penurunan yang terkecil pada persentase styrofoam 100 % untuk muka air tanah di atas dasar fondasi dan pada persentase styrofoam 0 % untuk muka air tanah di bawah dasar fondasi. Kapasitas dukung ultimit yang terbesar terjadi pada kandungan styrofoam 0 % baik untuk muka air tanah di atas dasar fondasi maupun muka air tanah di bawah dasar fondasi.
Kata kunci : Beton styrofoam ringan, lempung lunak, muka air tanah.
Selengkapnya...

Tesis-tesis Teknik Mesin

DISTRIBUSI TEKANAN DAN UNJUK KERJA AEROFOIL EKOR PESAWAT TERBANG TIPE V PADA ANGKA REYNOLDS RENDAH

INTISARI
Ekor pesawat terbang tipe V adalah hasil penggabungan bagian horisontal dan vertikal ekor dengan membentuk sudut dihedral. Tipe ini mempunyai bentuk dan kontrol lebih sederhana, tapi menghasilkan gaya angkat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur perubahan distribusi tekanan antar-muka dan unjuk kerja aerofoil akibat pengaruh sudut dihedral. Aerofoil NACA 0012 dengan variasi sudut dihedral 450, 600, dan 750 diuji dalam terowongan angin pada berbagai sudut serang dan kecepatan aliran udara. Untuk mendapatkan unjuk kerja aerofoil, sebagai perbandingan gaya angkat dan gaya hambat, dilakukan pengukuran dengan timbangan digital. Visualisasi dilakukan menggunakan smoke generator. Hasil penelitian menunjukkan perubahan karakteristik distribusi tekanan akibat interferensi. Pada sudut dihedral 450, koefisien gaya angkat maksimal adalah 0,45, dan perbandingan koefisien gaya angkat dan gaya hambat maksimal 8,5 adalah terbesar dibandingkan sudut lain. Hal ini juga diperlihatkan di grafik koefisien tekanan yang merupakan luasan paling besar. Penurunan gaya angkat terjadi pada sudut serang 120-160. Hasil visualisasi mendukung percobaan yang dilakukan bahwa terjadi interferensi antar-muka aerofoil pada pangkal sayap dan tumbuhnya vortex pada ujung sayap.
Kata kunci : sudut dihedral, aerofoil, low speed wind-tunnel.




Selengkapnya...

Tesis-Tesis MIPA

OPERATOR INTEGRAL HARDY YANG BEKERJA PADA RUANG FUNGSI BANACH

INTISARI

Selain memuat sifat-sifat pemetaan, seperti : keterbatasan (boundedness), kekompakan (compactness) operator integral Hardy (Hardy type integral operator) yang berkerja pada ruang fungsi Banach (Banach function space), tulisan ini juga memuat estimasi ukuran ketidakkompakan operator tersebut. Operator integral Hardy yang dibicarakan di dalam tulisan ini dilengkapi kernel Onairov (Onairov’s kernel), sedangkan ruang fungsi Banach dimana operator itu berkerja memenuhi syarat - Berezhnoi ( -Berezhnoi condition). Hasil penelitian pertama berupa syarat cukup dan syarat perlu agar operator integral Hardy terbatas. Berangkat dari hasil tersebut, diberikan syarat cukup dan perlu agar operator tersebut kompak dan juga diberikan estimasi ukuran ketidakkompakan operator integral Hardy.


EVALUASI METODE PERAMALAN (FORECASTING) PERMINTAAN PASAR
di PT. BERLICO MULIA FARMA YOGYAKARTA

INTISARI

Seiring perkembangan globalisasi, pasar menjadi sangat kompleks, dinamis, dan sulit diprediksi. Oleh karena itu industri farmasi perlu melakukan suatu bentuk perencanaan strategis yang direpresentatifkan melalui bentuk peramalan, karena perencanaan yang baik didasarkan atas peramalan yang baik. Adanya fluktuasi permintaan pasar yang tidak mampu diprediksi oleh PT. Berlico Mulia Farma menyebabkan banyaknya permintaan yang tidak dapat terpenuhi dan pending demand. Kondisi ini mempelopori PT. Berlico Mulia Farma untuk mengevaluasi metode peramalan permintaanya. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakukan evaluasi metode peramalan permintaan pasar PT. Berlico Mulia Farma yaitu Focus Forecasting dengan tujuan untuk mengetahui kesesuaian
metode ini terhadap kondisi pasar di PT. Berlico Mulia Farma dan mendapatkan metode peramalan yang lebih baik.
Evaluasi dilakukan pada produk pareto solida yang termasuk kategori promoting product dan specialities product PT. Berlico Mulia Farma yang meliputi : Licokalk, Licobion, dan Licoprox. Penelitian ini dilakukan dengan cara membandingkan metode Focus Forecasting terhadap metode pembanding, yaitu penghalusan eksponensial, proyeksi tren dan time series decomposition. Proses
analisis data yang digunakan adalah berdasarkan nilai MAD (Mean Absolute Deviation) yang terkecil dengan alat bantu POM for Windows. Nilai MAD terkecil menunjukkan nilai kesalahan peramalan yang kecil. Pemilihan metode peramalan terbaik didasarkan pada metode yang mempunyai nilai kesalahan peramalan yang terkecil.
Hasil evaluasi metode peramalan menunjukkan metode Focus Forecasting sudah tidak sesuai dengan kondisi PT. Berlico Mulia Farma. Hal ini direpresentatifkan dari nilai MAD Focus Forecasting yang paling besar disbanding metode lainnya, yaitu untuk Licokalk, Licobion, Licoprox : 7144.73, 3446.53, 3226.56. Sedangkan nilai MAD terkecil didapatkan menggunakan metode time series decomposition, yaitu untuk Licokalk, Licobion, Licoprox : 1235.39, 1006.84, 1373.93, maka dapat disimpulkan bahwa metode time series decomposition merupakan metode peramalan yang lebih baik dan sesuai untuk digunakan di PT. Berlico Mulia Farma. Hal ini disebabkan metode tersebut memiliki nilai kesalahan peramalan yang relatif kecil.
Kata kunci : peramalan, metode peramalan, Focus Forecasting.
Selengkapnya...

Abstract S2 Kedokteran Periodonsia

PERBEDAAN EFEKTIVITAS ANTARA APLIKASI GEL METRONIDASOL 25% DAN GEL KHLORHEKSIDIN 0,2% TERHADAP GINGIVITIS IBU HAMIL
Kajian pada Jumlah Leukosit Poket Periodontal, BOP, Indeks Gingiva Ibu Hamil Trimester Kedua

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat perbedaan efektivitas antara aplikasi topikal gel metronidasol 25% dan gel khlorheksidin 0,2% terhadap jumlah leukosit poket periodontal, BOP, dan indeks gingiva pada poket ibu hamil trimester kedua. Jumlah sampel 15 ibu hamil trimester kedua dengan poket 3-5 mm.
Rancangan penelitian eksperimental dengan desain kontra lateral, poket interdental M1-M2 rahang bawah sisi kanan diaplikasikan gel khlorheksidin 0,2% dan poket interdental M1-M2 sisi kiri rahang bawah diaplikasikan gel metronidasol 25%, dari hari ke-1 sampai dengan hari ke-6. Pengambilan cairan gingiva di hari ke-0 dan hari ke-7 untuk menghitung jumlah leukosit. Pengukuran klinis, terdiri dari BOP ( bleeding on probing ) dan indeks gingiva yang diukur pada hari ke-0 dan ke-7. Penurunan jumlah leukosit di uji statistik dengan t-test dan anava dua jalur, BOP dan indeks gingiva diuji menggunakan Chi-square.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang bermakna pada penurunan jumlah leukosit (p < 0,05), penurunan BOP tidak bermakna ( p > 0,05), dan penurunan indeks gingiva bermakna (p ≤ 0,05). Kesimpulan gel metronidasol 25% lebih efektif dibandingkan dengan gel khlorheksidin 0,2% terhadap penurunan jumlah leukosit dan indeks gingiva. Pada BOP tidak ada perbedaan antara gel metronidasol 25% dibandingkan dengan gel khlorheksidin 0,2%

Kata kunci: gel metronidasol 25%, gel khlorheksidin 0,2%, leukosit, BOP, Indeks
Gingiva





Selengkapnya...

Tesis Abstract Ilmu Kehutanan

KAJIAN PERSEPSI MASYARAKAT PEMILIK HUTAN TERHDAP PELESTARIAN HUTAN RAKYAT DI SUMBA-BARAT

Intisari

Hutan sebagai salah satu penentu ekosistem penyangga kehidupan dan merupakan sumber kemakmuran bagi rakyat. Keberhasilan pengelolaan hutan tidak bisa lepas dari kesadaran dan pentingnya tindakan pelestarian. Keberhasilan masyarakat dalam memanfaatkan lahan secara optimal disebabkan adanya pengetahuan yang mereka miliki, khususnya pengetahuan tentang kelestarian.Tingkat pengetahuan yang mereka miliki akan memberikan wawasan yang luas serta dapat menumbuhkan sikap untuk mengambil keputusan yang tepat dalam pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.
Penelitian ini dilakukan dengan metode survay: 1) Memberikan kuisiner kepada 36 sampel petani pemilik hutan rakyat di Sumba Barat, pengamatan lapangan pada 78 petak ukur pada 4 strata pertumbuhan untuk memperoleh data vegetasi hutan rakyat di Sumba-Barat dan analisis statistik uji kwadrat chi dan metode regresi linier berganda yang digunakan untuk melihat seberapa baik persepsi masyarakat Sumba-Barat dan hubungan antara sistim pengelolaan hutan rakyat (yang ditunjukan dengan indikator jumlah pohon/ha)dengan beberapa faktor.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi hutan rakyat di Sumba Barat pada tingkat semai didominasi jenis: mahoni dan lamtoro, tingkat sapihan: mahoni dan jati, tingkat tiang: mahoni dan nangka dan tingkat pohon: mahoni dan kemiri. Hasil uji kwadrat chi menunjukan bahwa sebagian besar masyarakat pemilik hutan rakyat di Sumba-Barat (80%) memiliki persepsi yang baik terhadap pelestarian hutan rakyat. Uji regresi linier berganda menunjukkan bahwa faktor kepemilikan ternak dan luas lahan memberikan pengaruh yang nyata terhadap sistim pengelolaan hutan rakyat di Sumba-Barat. Kepemilikan ternak memberikan pengaruh positif, semakin banyak ternak maka semakin baik pula sistim pengelolaan hutan rakyat. Sedangkan luas lahan memberikan pengaruh negatif bahwa semakin luas lahan yang dimiliki maka semakin buruk pula sistim pengelolaan hutan rakyat yang dilakukan.
Kata-kata kunci : Persepsi, Kelestarian, Hutan Rakyat


POLA PENGELOMPOKAN KOMUNITAS MAMAR DI TIMOR POLA PENGELOMPOKAN KOMUNITAS MAMAR DI TIMOR Intisari Mamar merupakan bentuk pengelolaan sumberdaya lahan yang emaduserasikan kepentingan manusia dan lingkungan. Penelitian bertujuan mengetahui struktur dan komposisi vegetasi komunitas mamar, mengetahui pola komunitas mamar dan peranan faktor lingkungan terhadap komunitas mamar. Hipotesis yang diajukan adalah (1), Komunitas mamar memiliki struktur dan komposisi yang beragam pada setiap mintakat; dan (2) Faktor lingkungan berperan terhadap pengelompokan komunitas mamar. Penelitian dilakukan dengan klasifikasi pemintakatan yaitu I (<200) m dpl, II (200-350) m dpl, III (350-500) m dpl dan IV (> 500) m dpl.
Pada setiap kelas mintakat diambil 4 releve mamar, dilakukan analisis vegetasi dengan metode kuadran untuk semua tingkat pertumbuhan. Data dianalisis berdasarkan indeks keanekaragaman jenis Shannon, Indeks Nilai penting (INP), keharaan dan analisis tandan berdasarkan kerapatan jenis, INP dan faktor lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan struktur dan komposisi vegetasi berbeda pada setiap tingkat pertumbuhan. Jumlah jenis tumbuhan tingkat semai 85 jenis, sapihan 90 jenis, tiang 77 jenis dan pohon 69 jenis. Pemintakatan mamar umumnya lebih banyak pada mintakat (200-500) m dpl, indeks kesamaan antar releve tinggi, peran faktor lingkungan terhadap pengelompokan komunitas rendah. Pengelolaan komunitas mamar dapat ditingkatkan melalui pengelolaannya dalam bentuk unit-unit pengelolaan hutan rakyat berbasis masyarakat.
Kata kunci : Mamar, komunitas, pengelompokan dan pengelolaan
Selengkapnya...

Tesis Abstraksi Farmasi

ESTIMASI PERENCANAAN OBAT BERDASARKAN METODE MORBIDITAS SEBAGAI ALTERNATIF PERENCANAAN OBAT DI RSUD Dr. DORIS SYLVANUS PALANGKARAYA

INTISARI
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya dituntut untuk mampu mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage). Penerapan konsep manajemen obat merupakan salah satu strategi penting meningkatkan kemampuan rumah sakit untuk melaksanakan dan mengelola obat dalam jenis dan jumlah obat yang cukup. Instalasi Farmasi RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya sejak tahun 2009 dituntut untuk mampu melayani kebutuhan obat baik untuk pasien umum, pasien ASKES maupun pasien JAMKESMAS sehingga dibutuhkan perencanaan yang tepat. Data konsumsi yang selama ini menjadi dasar dalam perencanaan obat tidak menggambarkan kebutuhan obat di rumah sakit yang sesungguhnya. Sehingga penelitian ini memilih melakukan estimasi perencanaan berdasarkan metode morbiditas sebagai alternatif perencanaan obat untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi Instalasi Farmasi RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya.
Penelitian ini dirancang sebagai penelitian eksperimental dengan menggunakan data primer dan data sekunder yang disampaikan secara deskriptif analitis. Data primer diperoleh dari berupa data kasus penyakit yang ada di RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya tahun 2005 hingga tahun 2007 dan data pedoman standar terapi.
Dari hasil estimasi perencanaan obat dengan metode morbiditas diperoleh gambaran lengkap mengenai pola penyakit yang ditangani dan kebutuhan obat untuk mengatasi 10 kasus penyakit terbesar. Data konsumsi yang saat ini dimiliki Instalasi Farmasi RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya tidak menggambarkan kebutuhan yang sesungguhnya disebabkan tidak lengkapnya data konsumsi yang dimiliki Instalasi Farmasi. Estimasi perencanaan obat dengan metode morbiditas di RSUD Dr. Doris Sylvanus Palangkaraya mampu memberikan gambaran kebutuhan obat yang sesungguhnya khususnya untuk mengatasi 10 (sepuluh) kasus penyakit terbesar, jenis obat yang tidak ada dalam perencanaan saat ini namun dibutuhkan pasien bisa dideteksi, mampu mengantisipasi jika terjadi perubahan pola penyakit, dan dapat digunakan sebagai koreksi pola peresepan.
Kata Kunci : Metode morbiditas, Estimasi perencanaan obat


ANALISIS KESENJANGAN KUALITAS PELAYANAN DI INSTALASI FARMASI RUMAH SAKIT PANTI NUGROHO YOGYAKARTA DENGAN METODE SERVQUAL

INTISARI
Kualitas pelayanan yang prima menjadi tantangan bagi industri jasa, termasuk Instalasi Farmasi Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta. Gagalnya penyampaian jasa yang sesuai harapan pelanggan membuat layanan farmasi yang diberikan tidak berkualitas, sehingga timbul keluhan pelanggan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kesenjangan antara persepsi manajemen atas harapan pelanggan dengan harapan pelanggan yang sesungguhnya, mengetahui kesenjangan antara persepsi dan harapan pelanggan atas kualitas pelayanan instalasi farmasi, mengetahui dimensi yang paling mempengaruhi penilaian kualitas pelayanan secara keseluruhan dengan metode servqual.
Penelitian merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional yang berlokasi di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta. Subyek penelitian terdiri dari 3 kelompok yaitu pasien, perawat, dan Kepala Instalasi Farmasi serta karyawan Instalasi Farmasi sebagai pihak manajemen. Alat penelitian berupa kuisioner yang berisi pertanyaan tentang harapan dan persepsi atas pelayanan instalasi farmasi. Pertanyaanpertanyaan kuisioner terbagi dalam lima dimensi servqual yaitu dimensi tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan empathy. Data yang diperoleh direkapitulasi dan diberikan skoring yang ditetapkan dengan skala Likert. Analisis dilakukan menggunakan pendekatan statistik dengan bantuan program SPSS For Windows Release 14.
Hasil penelitian menunjukkan tidak ada kesenjangan antara persepsi manajemen atas harapan pelanggan sesungguhnya; ada kesenjangan antara harapan dan persepsi pelanggan atas kualitas pelayanan instalasi farmasi; dimensi reliability merupakan dimensi yang berpengaruh paling besar pada penilaian kualitas pelayanan secara menyeluruh pada kelompok pasien. Pada kelompok perawat, dimensi assurance dan empathy yang paling besar pengaruhnya pada penilaian kualitas pelayanan secara keseluruhan. Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Instalasi Farmasi Rumah Sakit, Servqual.
Selengkapnya...

Abstraksi Tesis Psikologi

PENINGKATAN EFIKASI DIRI TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN KARIR MELALUI PELATIHAN PERENCANAAN KARIR

INTISARI

Pada manajemen karir individual, individu dihadapkan pada pilihanpilihan karir hingga membuat keputusan-keputusan karir. Efikasi diri memiliki peranan yang penting dalam pengambilan keputusan karir.
Efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir adalah keyakinan individu bahwa ia dapat sukses menilai kemampuan dirinya dengan tepat, mengumpulkan informasi-informasi mengenai karir, menyeleksi tujuan karir, membuat rencana-rencana karir untuk masa depan, dan memecahkan permasalahan karir.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan perencanaan karir dalam meningkatkan efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir. Penelitian ini melibatkan 40 orang yang dibagi kedalam dua kelompok. Kelompok eksperimen yang terdiri dari 20 orang mendapatkan pelatihan perencanaan karir dan kelompok lain yang juga terdiri dari 20 orang sebagai kelompok kontrol.
Skala efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir diberikan kepada setiap subjek penelitian untuk mengukur efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir. Tes awal diberikan seminggu sebelum pelaksanaan pelatihan perencanaan karir. Tes akhir diberikan sebulan setelah pelaksanaan pelatihan perencanaan karir. Hipotesis diuji menggunakan anava repeated measures. Hasil analisis data menunjukkan bahwa efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir meningkat secara signifikan setelah dilberikan pelatihan perencanaan karir (F=6,45, p<0,05). Ada perbedaan efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir yang signifikan pada kelompok eksperimen antara tes awal dan tes akhir (t=-10,709, p<0,05) dan peningkatan rerata efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir pada kelompok eksperimen adalah 18,8 (tes awal= 155,35 dan tes akhir=174,15).

Kata kunci : efikasi diri terhadap pengambilan keputusan karir, pelatihan perencanaan karir.






Selengkapnya...

Tesis Abstraksi Magister Hukum

IMPLEMENTASI KONSEP OTONOMI DESA DALAM ERA OTONOMI LUAS DI KABUPATEN BUOL PROVINSI SULAWESI TENGAH
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana konsep otonomi desa dalam era otonomi luas terimplementasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kabupaten Buol, dan mengetahui hambatan atau kendala yang ditemukan dalam mengimplementasikan konsep tersebut dan upaya yang ditempuh oleh Pemerintah Daerah dalam mengatasi hambatan tersebut, serta mengapa pengaturan masalah konsep otonomi desa disatukan dengan pengaturan mengenai pemerintahan daerah.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan yuridis normatif, yuridis komparatif, yuridis historis, dan yuridis sosiologis. Data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui penelitian lapangan dengan menggunakan cara-cara pengumpulan melalui wawancara, dan daftar quisioner, sedangkan data sekunder diperoleh melalui penelitian kepustakaan dan studi dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) konsep otonomi desa sebagaimana yang dimaksudkan dalam peraturan perundang-undangan belum sepenuhnya terimplementasi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa, (2) adanya beberapa hambatan-hambatan yang dihadapi dalam mengimplementasikan konsep tersebut, diantaranya lemahnya sumber daya manusia aparatur desa, (3) Upaya-upaya yang dilakukan pemerintah daerah dalam mengantisipasi hambatan tersebut di antaranya mengeluarkan kebijakan dengan memberikan pelimpahan sebagian wewenang pemerintah daerah kepada Camat, (4) terjadinya inkonsistensi peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pemerintahan desa dengan konsep otonominya.
Agar konsep otonomi desa dalam era otonomi luas terimplementasi, maka penyusun menyarankan sebagai berikut :
1. Pemerintah desa perlu diatur dengan UU tersendiri untuk menghilangkan kesalahan penafsiran terhadap pelaksanaan otonomi daerah dengan otonomi desa
2. Untuk memaksimalkan tersosialisasinya produk-produk hukum yang berkaitan dengan pelaksanaan pemerintahan desa agar dianggarkan dalam APBD Kabupaten Buol.
3. Sebagai wujud terimplementasinya konsep otonomi desa di Kabupaten Buol, maka melalui lembaga adat yang ada perlu menggali kembali hukum adat yang pernah hidup dan berlaku bagi masyarakat Buol serta memfungsikannya secara proporsional guna menopang pembangunan daerah terutama dalam mendorong terciptanya kreatifitas, partisipasi, dan kemandirian masyarakat. Di samping itu istilah “desa” yang digunakan dalam penyebutan institusi pemerintahan desa yang selama ini digunakan, perlu mengembalikan penyebutan tersebut kepada penyebutan berdasarkan asal usul daerah setempat yang dikenal dengan istilah “Kambung”.

Kata kunci : konsep otonomi desa, otonomi luas







Selengkapnya...

Abstraksi Tesis-Tesis Magister Ekonomi Pembangunan

TINGKAT KAPITALISASI TANAH PERKEBUNAN KOPI DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHINYA DI KABUPATEN LAMPUNG SELATAN
INTISARI
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kapitalisasi tanah perkebunan kopi di Kabupaten Lampung Selatan dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat kapitalisasi perkebunan kopi. Faktor-faktor yang diduga berpengaruh terhadap tingkat kapitalisasi tanah perkebunan kopi adalah luas lahan, jarak perkebunan ke jalan besar, jarak perkebunan ke pelabuhan, dan produktivitas Data yang digunakan adalah data primer melalui wawancara langsung kepada Kepala Cabang Dinas Perkebunan Kecamatan Penengahan, Kecamatan Way Lima, Kecamatan Kedondong, Kecamatan Punduh Pidada, dan Kecamatan Padang Cermin. Sebagian lagi merupakan data sekunder yang diperoleh melalui Dinas Perkebunan Lampung Selatan, BAPPEDA Lampung Selatan, dan dari KP. PBB Bandar Lampung.
Penelitian ini menggunakan data kerat lintang dengan jumlah sampel yang digunakan sebanyak 82 data. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian yaitu analisis statistik yang dipakai untuk mengukur tendensi sentral dan kenormalan distribusi, tingkat kapitalisasi serta analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor tersebut di atas.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa rata-rata hitung tingkat kapitalisasi tanah perkebunan kopi di Kabupaten Lampung Selatan secara umum sebesar 7,89%. Melalui analisis regresi log-lin diperoleh hasil bahwa secara parsial jarak perkebunan kopi ke pelabuhan tidak signifikan, sedangkan luas lahan, jarak perkebunan ke jalan besar dan produktivitas mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tingkat kapitalisasinya dan secara bersama-sama memberi pengaruh nyata terhadap tingkat kapitalisasi tanah perkebunan kopi di Kabupaten Lampung Selatan dengan daya jelas sebesar 83,06%.


PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH
(Studi Kasus Pemerintah Kabupaten Gunung Kidul, 1985-2002)
INTISARI

Tujuan dari penelitian ini adalah melihat pengaruh pengeluaran pemerintah daerah terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan mengindentifikasi pengeluaran pemerintah dilihat dari pengeluaran rutin, pengeluaran pembangunan untuk bidang ekonomi, bidang sosial, bidang umum, dan bidang subsidi pembangunan daerah bawahan terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah di Kabupaten Gunung Kidul. Data yang digunakan berupa data sekunder, time series tahun 1985-2002.
Analisis data dilakukan dengan analisis statistik–ekonometrik termasuk di dalamnya analisis regresi linier dengan metode kuadrat terkecil (Ordinary Least Sguare/OLS). Hasil analisis statistik menunjukkan uji t dan uji f signifikan pada taraf nyata α =5%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengeluaran pemerintah pada pengeluaran rutin, pengeluaran pembangunan bidang umum, dan subsidi pembangunan daerah bawahan berpengaruh terhadap laju pertumbuhan ekonomi daerah sementara variabel pengeluaran untuk bidang ekonomi dan bidang sosial tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di Kabupaten Gunung Kidul. Uji koefisien determinasi R2 menunjukkan 38,67% variasi perubahan variabel dependen mampu dijelaskan oleh variasi perubahan variabel independent, sedangkan selebihnya 62,43% merupakan residual atau variabel lain di luar model.

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENERIMAAN PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI PROPINSI JAWA BARAT
INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi factor-faktor yang mempengaruhi penerimaan PBB. Data panel 22 kabupaten/kota di Jawa Barat pada periode 2000-2002 digunakan untuk mengetahui pengaruh luas wilayah, PDRB, belanja pembangunan untuk transportasi, belanja pembangunan untuk tata ruang dan lingkungan hidup terhadap penerimaan PBB.
Hasil penelitian menunjukkan, PDRB per rumah tangga, belanja pemerintah untuk transportasi, tata ruang dan lingkungan hidup berpengaruh terhadap peningkatan penerimaan PBB, tetapi luas wilayah tidak berpengaruh. Penerimaan PBB dapat ditingkatkan dengan meningkatkan dan memeratakan aktivitas ekonomi sampai ke kecamatan, dengan membangun pusat-pusat pertumbuhan.

STUDI PERSEPSI MASYARAKAT TERHADAP EKSPLOITASI BAHAN GALIAN GOLONGAN C DI KABUPATEN DONGGALA PROVINSI SULAWESI TENGAH
INTISARI

Kabupaten Donggala dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) salah satunya melalui eksploitasi bahan galian golongan C. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dampak dari eksploitasi bahan galian golongan C serta penilaian ekonomi berdasarkan persepsi masyarakat yang ditimbulkan dari pengolahan bahan galian golongan C. Untuk mengidentifikasi menggunakan matriks pengukuran dampak menurut Fandeli dan teknik penilaian lingkungan. Eksploitasi bahan galian golongan C memberikan dampak negatif terhadap nilai lingkungan sekitar areal penambangan sejumlah Rp191.902.946.400 sehingga, Pemerintah Kabupaten Donggala sebaiknya membuat surat keputusan penutupan areal penambangan yang menurut persepsi masyarakat memberikan dampak negatif dan merehabilitasi areal penambangan agar supaya tidak memperparah kerusakan terhadap lingkungan.
Kata kunci : Eksploitasi, dampak, nilai

Selengkapnya...

Abstraksi Tesis Ilmu Kesehatan Masyarakat

PENGARUH PELATIHAN REKAM MEDIS ORIENTASI MASALAH TERHADAP KELENGKAPAN PENGISIAN REKAM MEDIS RAWAT JALAN PENYAKIT ANAK RSUD SOA SIO TIDORE

INTISARI
Latar Belakang: Rekam medis semakin penting bagi rumah sakit, tidak hanya dari segi hokum tapi juga manajemen, karena rekam medis menyinpan sejumlah data dan harus diolah menjadi informasi penting, maka perlu adanya rekam medis yang lengkap dan tertata. Rekam medis dikatakan berkualutas apabila berisi data yang lengkap sehingga dapat diolah menjadi informasi dan dimungkinkan dilakukannya evaluasi objektif terhadap kinerja pelayanan kesehatan. Penyelenggaraan rekam medis di Rumah Sakit Umum Daerah Soasio Tidore menghadapi berbagai macam permasalahan. Pencatatan dan pendokumentasian rekam medis saat ini belum berjalan dengan baik, ditemukan banyak rekam medis yang tidak lengkap, serta pengelolaan rekam medis belum mendapat perhatian serius dari jajaran manajemen rumah sakit.
Metode: Penelitian ini menilai pengaruh pelatihan rekam medis orientasi maslah terhadap kelengkapan pengisian rekam medis pasien anak serta menilai pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku dalam pengisian rekam medis oleh petugas registrasi, petugas poliklinik dan dokter. Penelitian meggunakan metode quasi eksperimental dengan rancangan pre test dan post test tanpa kontrol, untuk menilai ada tidaknya pengaruh pelatihan terhadap kelengkapan pengisian rekam medis dan pengaruh pelatihan terhadap pengetahuan, sikap dan perilaku petugas.
Hasil: Terdapat perubahan yang signifikan terhadap kelengkapan pengisian rekam medis dan pengetahuan, sikap serta perilaku petugas setelah pelatihan.
Kesimpulan: Pelatihan memberikan pengaruh terhadap kelengkapan pengisian rekam medis dan peningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku petugas.


PEMANFAATAN RAWAT INAP PUSKESMAS SIPAYUNG RENGAT DI KABUPATEN INDRAGIRI HULU
INTISARI
Latar Belakang: Puskesmas merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang melayani pula perubahan orientasi nilai dan pemikiran. Fungsi Puskesmas yang semula sebagai tempat untuk pengobatan penyakit dan luka-luka, kini telah berkembang ke arah kesatuan upaya pelayanan untuk seluruh masyarakat yang mencakup aspek promotif, preventif, kuratif dan rehabilitif. Dengan kondisi Rumah Sakit Umum Kabupaten yang letaknya lebih kurang 18 Km dari Kota Rengat, maka Bupati Indragiri Hulu telah membuat suatu kebijakan dengan menjadikan Puskesmas Sipayung menjadi puskesmas Rawat Inap di Kota Rengat. Tujuannya adalah untuk lebih memudahkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang ada di kota Rengat. Akan tetapi pada kenyataannya masyarakatnya belum dapat memanfaatkan sepenuhnya pelayanan yang ada di Puskesmas tersebut.
Tujuan Penelitian: adalah untuk mengetahui mengapa pemanfaatan pelayanan Puskesmas Sipayung sebagai Puskesmas Rawat Inap masih rendah.
Metode Penelitian: Penelitian ini lebih bersifat study kasus guna mengetahui penyebab rendahnya pemanfaatan Puskesmas Rawat Inap Sipayung. Metode yang digunakan kualitatif dengan mewawancarai; 1 Kepala Dinas, 1 Kepala Puskesmas, dan 25 orang responden di kota Rengat sebagai subyek penelitian dan menelaah dokumen laporan tahunan puskesmas sebagai data sekunder.
Hasil: Pemanfaatan Puskesmas dilihat dari tingkat pemakaian Bornya 20,8%, selebihnya masyarakat lebih memanfaatkan pelayanan kesehatan di tempat lain yaitu; RSUD, Rumah Sakit Swasta di Pekan Baru, Puskesmas lain dan praktek dokter swasta.
Kesimpulan: Hasil akhir tesis ini menyatakan bahwa ternyata pemanfaatan Puskesmas Rawat Inap Sipayung masih rendah. Ini terbukti dari jumlah pemakaian Bornya rendah 20,8 %. Ini juga didapati dengan kurang dimanfaatkannya tenaga, sarana, dan fasilitas yang ada di puskesmas.
Kata Kunci : Pemanfaatan, Puskesmas, Rawat Inap, Indragiri Hulu
Selengkapnya...

Abstraksi Tesis Ilmu Politik Konsentrasi Lokal dan Otonomi Daerah

PERILAKU VOTING MASYARAKAT ATONI METO
Sebuah Analisis Terhadap Perilaku Voting Masyarakat Atoni Meto di Kecamatan Mollo Selatan, Mollo Utara dan Fatumnasi Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur pada Pemilu 1997, 1999 dan 2004)
Intisari
Perubahan sistem kepartaian dari hegemoni ke multi partai telah membuka peluang bagi kompetisi diantara partai politik untuk menjaring massa. Perubahan sistem politik yang terjadi saat ini, pada kenyataannya belum membawa perubahan yang berarti pada orientasi politik masyarakat Atoni Meto pada suku Mollo di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang masih dominan memilih partai Golkar. Oleh karena itu untuk mengkaji lebih jauh fenomena tersebut maka fokus dalam penelitian ini dibatasi dalam tiga persoalan pokok yaitu faktor-faktor apa yang mempengaruhi orang Atoni Meto di suku Mollo sehingga cenderung memilih Golkar dalam pemilu, bagaimana pola pergeseran identifikasi kepartaian pada orang Atoni Meto di suku Mollo pada pemilu 1997, 1999 dan 2004 serta bagaimana bentuk perilaku voting orang Atoni Meto di suku Mollo pada pemilu 1997, 1999 dan 2004. Variabel penjelas yang digunakan untuk menjelaskan fenomena ini adalah identifikasi kepartaian, hubungan patron-klien dan dominasi Negara.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (grounded) dan kuantitatif (survey). Metode grounded diterapkan untuk membuat deskripsi dan penjelasan tetang gejala social yang merupakan pengembangan konsep dan kategori perilaku. Sedangkan metode survey ditujukan untuk melakukan kuantifikasi terhadap gejala empiris dan aktifitas objek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 100 responden yang berada di kecamatan Mollo Utara, Mollo Selatan dan Fatumnasi serta melakukan wawancara mendalam kepada nara sumber yang dianggap bekompeten dengan permasalahan yang diteliti. Analisa data dilakukan dengan cara membuat tabulasi silang untuk mengetahui pengaruh antar variabel, kemudian melakukan uji statistik chi square.
Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi sehingga orang Atoni Meto selalu memilih Golkar dalam pemilu adalah identifikasi kepartaian, hubungan patron-klien dan dominasi Negara. Namun dari ketiga variabel ini, faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku voting Atoni Meto adalah pola hubungan patron-klien. Hubungan patron-klien merupakan variabel utama dalam pembentukan perilaku politik individu Atoni Meto karena tokoh panutan utama masyarakat Atoni Meto yaitu usif yang merupakan agen utama dalam pembentukan nilai politik, ekonomi, social budaya dan pertahanan keamanan dalam masyarakat sehingga usif merupakan intervening variabel yang berfungsi sebagai penerjemah antara identifikasi kepartaian dan dominasi Negara terhadap perilaku voting.
Sedangkan pola pergeseran identifikasi kepartaian orang Atoni Meto disuku Mollo pada pemilu 1997, 1998 dan 2004 dapat diketahui dari pertama, pergeseran identifikasi elit Atoni Meto ke partai lain sehingga dengan sendirinya pergeseran tersebut diikuti oleh masyarakat Atoni Meto yang secara politik, ekonomi dan sosial budaya memiliki ketergantungan terhadap tokoh panutan. Kedua, perubahan sistem kepartaian dari bentuk satu partai ke multi partai juga mempengaruhi orientasi politik masyarakat Atoni Meto. Perilaku voting individu Atoni Meto sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh factor lingkungan sosial politik masyakat Atoni Meto yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan tokoh panutan usif yang merupakan agen utama pembentuk nilai politik, disamping dipengaruhi pula oleh keberadaan tokoh panutan usif yang merupakan agen utama pembentuk nilai politik, disamping dipengaruhi oleh sistem politik aliran yang saat ini berkembang dengan baik di Indonesia.
Kata Kunci : Perilaku voting Atoni Meto dipengaruhi oleh budaya patron-klien




Selengkapnya...

PERILAKU VOTING MASYARAKAT ATONI METO

Jumat, 04 Desember 2009

(Sebuah Analisis Terhadap Perilaku Voting Masyarakat Atoni Meto di Kecamatan Mollo Selatan, Mollo Utara dan Fatumnasi Kabupaten Timor Tengah Selatan Propinsi Nusa Tenggara Timur pada Pemilu 1997, 1999 dan 2004)

Intisari

Perubahan sistem kepartaian dari hegemoni ke multi partai telah membuka peluang bagi kompetisi diantara partai politik untuk menjaring massa. Perubahan sistem politik yang terjadi saat ini, pada kenyataannya belum membawa perubahan yang berarti pada orientasi politik masyarakat Atoni Meto pada suku Mollo di Kabupaten Timor Tengah Selatan yang masih dominan memilih partai Golkar. Oleh karena itu untuk mengkaji lebih jauh fenomena tersebut maka fokus dalam penelitian ini dibatasi dalam tiga persoalan pokok yaitu faktor-faktor apa yang mempengaruhi orang Atoni Meto di suku Mollo sehingga cenderung memilih Golkar dalam pemilu, bagaimana pola pergeseran identifikasi kepartaian pada orang Atoni Meto di suku Mollo pada pemilu 1997, 1999 dan 2004 serta bagaimana bentuk perilaku voting orang Atoni Meto di suku Mollo pada pemilu 1997, 1999 dan 2004. Variabel penjelas yang digunakan untuk menjelaskan fenomena ini adalah identifikasi kepartaian, hubungan patron-klien dan dominasi Negara.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif (grounded) dan kuantitatif (survey). Metode grounded diterapkan untuk membuat deskripsi dan penjelasan tetang gejala sosial yang merupakan pengembangan konsep dan kategori perilaku. Sedangkan metode survey ditujukan untuk melakukan kuantifikasi terhadap gejala empiris dan aktifitas objek penelitian. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada 100 responden yang berada di kecamatan Mollo Utara, Mollo Selatan dan Fatumnasi serta melakukan wawancara mendalam kepada nara sumber yang dianggap bekompeten dengan permasalahan yang diteliti. Analisa data dilakukan dengan cara membuat tabulasi silang untuk mengetahui pengaruh antar variabel, kemudian melakukan uji statistik chi square.


Hasil penelitian yang dilakukan menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi sehingga orang Atoni Meto selalu memilih Golkar dalam pemilu adalah identifikasi kepartaian, hubungan patron-klien dan dominasi Negara. Namun dari ketiga variabel ini, faktor yang paling berpengaruh terhadap perilaku voting Atoni Meto adalah pola hubungan patron-klien. Hubungan patron-klien merupakan variabel utama dalam pembentukan perilaku politik individu Atoni Meto karena tokoh panutan utama masyarakat Atoni Meto yaitu usif yang merupakan agen utama dalam pembentukan nilai politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan dalam masyarakat sehingga usif merupakan intervening variabel yang berfungsi sebagai penerjemah antara identifikasi kepartaian dan dominasi Negara terhadap perilaku voting.
Sedangkan pola pergeseran identifikasi kepartaian orang Atoni Meto disuku Mollo pada pemilu 1997, 1998 dan 2004 dapat diketahui dari pertama, pergeseran identifikasi elit Atoni Meto ke partai lain sehingga dengan sendirinya pergeseran tersebut diikuti oleh masyarakat Atoni Meto yang secara politik, ekonomi dan sosial budaya memiliki ketergantungan terhadap tokoh panutan. Kedua, perubahan sistem kepartaian dari bentuk satu partai ke multi partai juga mempengaruhi orientasi politik masyarakat Atoni Meto.
Perilaku voting individu Atoni Meto sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh factor lingkungan sosial politik masyakat Atoni Meto yang sangat dipengaruhi oleh keberadaan tokoh panutan usif yang merupakan agen utama pembentuk nilai politik, disamping dipengaruhi pula oleh keberadaan tokoh panutan usif yang merupakan agen utama pembentuk nilai politik, disamping dipengaruhi oleh sistem politik aliran yang saat ini berkembang dengan baik di Indonesia.
Kata Kunci : Perilaku voting Atoni Meto dipengaruhi oleh budaya patron-klien

Selengkapnya...